Kontrakan Murah di Purwoyoso dan Kisah yang Baru Terungkap




Saya dan tiga temanku masing-masing berasal dari Tuban, Cepu, dan Jepara pernah mengontrak sebuah rumah di daerah Purwoyoso ngaliyan. Harga kontrakannya tergolong murah dibandingkan tempat lain di sekitar situ. Bagi kami yang masih mahasiswa, tentu itu sangat membantu. Rumah itu sederhana, memiliki dua kamar. Namun kamar bagian belakang jarang sekali digunakan.
Sejak awal, kamar belakang terasa berbeda. Lampu di kamar itu sering mati tanpa sebab yang jelas. Sudah beberapa kali diganti baik lampu maupun dopnya bahkan baru dipasang sekitar seminggu pun sudah mati lagi. Kami sempat menduga mungkin kabelnya bermasalah, tapi tidak pernah benar-benar memeriksanya secara serius.

Selain itu, suasana di dalam rumah terasa panas. Anehnya, meskipun di luar udara tidak terlalu terik, bagian dalam kontrakan justru terasa gerah dan pengap. Meski begitu, selama tinggal di sana, aku dan teman-temanku tidak pernah mengalami kejadian janggal secara langsung. Tidak ada suara aneh, tidak ada benda bergerak sendiri semuanya tampak biasa saja.

Hanya saja, aku pribadi sering mengalami mimpi-mimpi yang terasa tidak logis. Beberapa kali aku seperti mengalami ketindihan saat tidur, dengan nuansa mimpi yang berbau mistis. Perasaan itu datang dan pergi, tapi aku mencoba tetap berpikir positif. Apalagi saat liburan tiba, aku sering tinggal sendirian karena tidak pulang kampung. Namun selama itu, semuanya tetap aman-aman saja.

Hal yang agak membuatku heran adalah kamar belakang. Setiap kali disapu bersih, tidak sampai satu atau dua jam, lantainya kembali kotor seperti berdebu lagi. Awalnya kami menganggap itu hal biasa mungkin karena ventilasi atau debu dari luar. Ibu pemilik kontrakan pun tidak pernah mengatakan apa pun tentang rumah itu. Kami juga tidak merasa ada sesuatu yang perlu dicurigai.

Waktu berjalan satu semester. Aku dan temanku yang berasal dari Tuban sebenarnya masih ingin melanjutkan kontrak. Namun dua temanku yang lain merasa kurang nyaman dan ingin pindah. Akhirnya aku ikut keputusan mereka. Kami pun pindah ke kontrakan lain di daerah Gondoriyo Semarang.

Satu semester berlalu di tempat baru. Suatu malam, aku dan temanku dari Tuban pergi membeli nasi goreng di dekat kontrakan lama kami di Purwoyoso. Saat itu, bapak penjual nasi goreng yang memang asli daerah situ menyapaku.

“Loh, kamu yang semester kemarin ngontrak di situ ya?” tanyanya, tanpa menyebut nama kontrakan rumahnya.

“Iya, Pak. Memang kenapa ya? Sekarang saya sudah pindah,” jawabku santai.

Lalu bapak itu berkata pelan, “Dulu kontrakan yang kamu pakai itu pernah dipakai bunuh diri. Ibunya ibu yang punya kontrakan itu…”

Aku langsung terdiam. Jantungku terasa berdegup lebih cepat. Dalam pikiranku terlintas kembali semua kejadian aneh di kamar belakang lampu yang selalu mati, kamar yang cepat kotor, mimpi-mimpiku selama ini.

Bapak itu melanjutkan, “Di atas kamar masih ada tali gantungan nggak?”

Aku spontan menjawab, “Masih, Pak… waktu saya masih ngontrak, talinya masih ada.”

Saat itu aku benar-benar kaget. Aku memang pernah melihat tali tergantung di bagian atas kamar belakang, tapi sama sekali tidak tahu bahwa itu pernah digunakan untuk hal seperti itu. Temanku yang mendengar cerita tersebut hanya bisa melongo, sama terkejutnya denganku.

Bapak penjual nasi goreng itu lalu menjelaskan bahwa sebenarnya ia ingin memberitahu sejak awal, saat kami baru sebulan tinggal di sana. Namun ia merasa kasihan. Kami baru saja membayar kontrakan, dan mungkin kalau diberi tahu waktu itu, kami akan langsung pindah.

Mendengar cerita itu, aku hanya bisa terdiam. Semua kejadian yang dulu terasa biasa saja kini seperti memiliki potongan penjelasan yang berbeda. Meski begitu, aku tetap bersyukur. Selama satu semester tinggal di sana, kami tidak pernah mengalami hal buruk atau gangguan yang nyata. Semua berjalan aman. Kini kisah itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikenang bahwa kadang, ada cerita lama yang tersembunyi di balik tempat yang kita tinggali.


Penulis : Ricko Zaky Pratama
Editor : Umi Fathonah Sulistyowati

Posting Komentar

1 Komentar