jiwa yang pernah terbelah


aku pernah tersesat dalam diri yang sepi,
layaknya senja yang lupa pulang di ujung hari,
membesarkan makna pada tepuk tangan dan puji yang menghampiri,
hingga hampa menjelma sunyi yang datang tanpa permisi.

di lipatan batin yang rimbun dan sunyi,
aku kembali menyulam luka dengan harap yang rapuh ini,
menganyam sabar dari retakan lara yang menghampiri,
meski kerap runtuh sebelum sempat utuh kembali.

waktulah yang mengajarkanku mengeja ulang namaku dalam sunyi,
bukan lagi insan yang tumbuh dari harap orang lain yang menghampiri,
melainkan nyala yang lahir dari luka yang kupeluk sendiri,
menjadi cahaya utuh yang terpancar dari relung diri. 

kini aku belajar mencintai relung jiwa
merawat duka tanpa mengutuknya
menyapa letih tanpa mengusirnya
dan memeluk diri tanpa mengikatnya

di sinilah aku tahu, di balik yang patah dan pernah rebah dalam diri,
di kedalaman relung jiwa yang sunyi dan sepi,
bersemayam aku yang tak pernah benar-benar sirna dalam diri,
menanti dipeluk penerimaan yang utuh dengan hati. 

dari sinilah jiwaku pulang dengan langkah yang lebih teduh,
menjadi semesta kecil yang utuh,
yang akhirnya kupeluk dengan penuh

Penulis : Diah Ayu Candra Puspita

Editor : Muhammad Aufar Hazim

Posting Komentar

0 Komentar