Puisi
LILIN DI ANTARA DUA JENDALA
Satu diciumi fajar lebih dulu, Satu dilepas senja paling hangat
Tepat diantara keduanya, lilin kecil berdiri
Dicelah yang tak dinamai, Disudut yang tidak pernah dilukis
Tak ada yang pernah melihatnya, Apakah sumbunya masih utuh
Tidak ada pula yang khawatir Saat angin malam menerobos celah pintu
Membuat nyalanya gemetar sendirian
Ia hanya diingat ketika ruangan mulai gelap
Ketika tidak ada lagi yang tersisa, Untuk memberikan cahaya
Mereka berkata dengan mata yang memandang jauh
“lihatlah jendela timur… betapa sempurnanya cahaya yang dipantulkan”
Tapi adakah yang bertanya padanya
Lilin kecil yang hanya menunduk pasrah
Ribuan tetes mengalir dari badannya
Demi menerangi ruangan, Yang bahkan tak menyebut namanya
Ia bagaikan batu ditengah sungai
Yang hanya dijadikan sebagai batu loncatan
Yang diinjak ketika orang butuh menyeberang
Dan dilupakan ketika sudah tercapai
Airnya mengalir deras, Hingga mengikis permukaannya perlahan
Tapi adakah yang peduli, Betapa dalam arus melukai batu ini
Ibarat tanah dibawah pohon besar yang tak pernah dipuji
Yang tak pernah dipandang dengan teliti
Justru akar pohon itu mencengkeramnya paling dalam
Mengambil bagian darinya tanpa pernah mengucap permisi
Musik berganti tanpa ada yang mengajaknya berbicara
Hujan datang tanpa ada yang memayunginya
Ia belajar mengenal dingin, sebelum sempat mengenal hangat
Dan dari situ, ia belajar bahwa api berasal dari dirinya sendiri
Pohon yang tumbuh tanpa dirawat justru menghunjamkan akarnya
Jauh lebih dalam daripada yang bisa dibayangkan
Mencari airnya sendiri, menembus batu dan gelap
Menembus ketidakpedulian yang bertahun-tahun menumpuk
Bagai daun gugur yang tak pernah disapu
Hingga hari itu akhirnya tiba
Ketika semua orang bangga pada jendelanya
Lilin itu menyalakan dirinya sendiri
Bukan dengan izin dari orang lain
Bukan pula dari tepuk tangan yang ditunggunya
Ia menyala dengan tenang
Dengan perih yang telah disuling menjadi cahaya
Dengan luka yang telah dibalut dengan kehangatan
Yang justru memberikan cahaya lebih hangat sari siapapun.
Penulis : Shofa Ishmatus Sanaya
Editor : Muhammad Aufar Hazim


Posting Komentar
0 Komentar