LILIN DI ANTARA DUA JENDALA

Dirumah yang sama, Dua jendela selalu bersalam matahari

Satu diciumi fajar lebih dulu, Satu dilepas senja paling hangat

Tepat diantara keduanya, lilin kecil berdiri

Dicelah yang tak dinamai, Disudut yang tidak  pernah dilukis 

 

Tak ada yang pernah melihatnya, Apakah sumbunya masih utuh

Tidak ada pula yang khawatir Saat angin malam menerobos celah pintu

Membuat nyalanya gemetar sendirian 

Ia hanya diingat ketika ruangan mulai gelap

Ketika tidak ada lagi yang tersisa, Untuk memberikan cahaya

 

Mereka berkata dengan mata yang memandang jauh

“lihatlah jendela timur… betapa sempurnanya cahaya yang dipantulkan”

Tapi adakah yang bertanya padanya 

Lilin kecil yang hanya menunduk pasrah

Ribuan tetes mengalir dari badannya 

Demi menerangi ruangan, Yang bahkan tak menyebut namanya

 

Ia bagaikan batu ditengah sungai

Yang hanya dijadikan sebagai batu loncatan 

Yang diinjak ketika orang butuh menyeberang

Dan dilupakan ketika sudah tercapai

Airnya mengalir deras, Hingga mengikis permukaannya perlahan

Tapi adakah yang peduli, Betapa dalam arus melukai batu ini

Ibarat tanah dibawah pohon besar yang tak pernah dipuji

Yang tak pernah dipandang dengan teliti

Justru akar pohon itu mencengkeramnya paling dalam

Mengambil bagian darinya tanpa pernah mengucap permisi

 

Musik berganti tanpa ada yang mengajaknya berbicara

Hujan datang tanpa ada yang memayunginya

Ia belajar mengenal dingin, sebelum sempat mengenal hangat

Dan dari situ, ia belajar bahwa api berasal dari dirinya sendiri

 

Pohon yang tumbuh tanpa dirawat justru menghunjamkan akarnya

Jauh lebih dalam daripada yang bisa dibayangkan 

Mencari airnya sendiri, menembus batu dan gelap

Menembus ketidakpedulian yang bertahun-tahun menumpuk

Bagai daun gugur yang tak pernah disapu

 

Hingga hari itu akhirnya tiba

Ketika semua orang bangga pada jendelanya

Lilin itu menyalakan dirinya sendiri

Bukan dengan izin dari orang lain

Bukan pula dari tepuk tangan yang ditunggunya

 

Ia menyala dengan tenang

Dengan perih yang telah disuling menjadi cahaya

Dengan luka yang telah dibalut dengan kehangatan

Yang justru memberikan cahaya lebih hangat sari siapapun. 



Penulis : Shofa Ishmatus Sanaya 
Editor : Muhammad Aufar Hazim


Posting Komentar

0 Komentar